TIAP kali Lebaran tiba, tiap kali itu pula angkutan bagi pemudik menjadi perkara pelik. Penyiapan jaringan infrastruktur hingga penyediaan moda transportasi sering kedodoran. Padahal, perkaranya dari tahun ke tahun ya itu-itu saja.
Salah satu penyebabnya, tidak lain, angkutan mudik tidak dirancang dan disiapkan secara utuh dan terpadu. Bahkan, yang lebih fatal, angkutan Lebaran dijadikan ajang untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memedulikan faktor keamanan dan kenyamanan.
Pembangunan dan perbaikan infrastruktur, baik jalan, pelabuhan, bandara, maupun yang lain, terkesan dilakukan secara ad hoc dan tambal sulam. Departemen Pekerjaan Umum dan Departemen Perhubungan hampir dipastikan tampak sibuk menjelang Lebaran.
Pelebaran jalan dan pengaspalan, misalnya, terlihat di mana-mana. Persoalannya, mengapa hanya sibuk menjelang Lebaran? Salah satu faktornya adalah karena mental proyek. Ada Lebaran ada proyek dan itu artinya ada fulus yang masuk ke kantong.
Padahal, tingkat kerusakan jalan nasional di sejumlah provinsi di Indonesia mencapai lebih dari 25%, bahkan ada yang lebih tinggi. Artinya, pembenahannya harus dilakukan secara berkesinambungan, tidak cukup hanya di saat Lebaran.
Fakta juga memperlihatkan jumlah pemudik dari tahun ke tahun terus meningkat. Untuk Lebaran tahun ini diperkirakan jumlah pemudik mencapai 16,25 juta orang atau naik 6,5% ketimbang tahun lalu yang mencapai 15,3 juta orang.
Dengan kata lain, baik dari sisi jumlah pemudik maupun jumlah angkutan moda transportasi yang digunakan ada pertambahan.
Selain pembenahan infrastruktur, audit terhadap kelaikan seluruh jenis moda transportasi dan pengemudinya juga menjadi sebuah keharusan. Bukan rahasia umum lagi, salah satu penyebab terjadinya kecelakaan, baik di darat, laut, maupun udara lantaran moda yang tidak laik tetap dipaksakan untuk dioperasikan.
Padahal, tingkat kecelakaan yang menyebabkan kematian sepanjang arus mudik dan arus balik masih tergolong tinggi. Pada tahun lalu saja, lebih dari 600 orang tewas dalam berbagai jenis kecelakaan.
Perkara lain yang kerap dihadapi pemudik adalah menyangkut penyediaan tiket di berbagai moda transportasi. Selain tiap tahun harga tiket selalu naik, pemudik pun kerap tidak kebagian tiket. Belum lagi pemudik dihadapkan dengan tindak kekerasan dan penipuan.
Angkutan kereta api, misalnya, meskipun pemudik sudah antre berjam-jam, begitu loket dibuka, hanya dalam hitungan menit, tiket sudah terjual habis. Namun, pemudik masih bisa memperoleh tiket bila berani membayar jauh lebih mahal lewat calo.
Perkara pelik yang muncul setiap ritual mudik memberi kesadaran bahwa pelayanan publik belum menjadi prioritas pertama dan utama.
Untuk itu, perlu dilakukan terobosan baik dari sisi konsepsi maupun implementasi, agar angkutan mudik merupakan bagian yang integral dari transportasi publik yang aman dan nyaman, yang dapat dinikmati rakyat kapan saja dan di mana saja.
Jadi, negara jangan hanya sibuk mengurus transportasi publik sekali setahun, yaitu menjelang Lebaran saja. Transportasi publik bukan perkara musiman.
Salah satu penyebabnya, tidak lain, angkutan mudik tidak dirancang dan disiapkan secara utuh dan terpadu. Bahkan, yang lebih fatal, angkutan Lebaran dijadikan ajang untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memedulikan faktor keamanan dan kenyamanan.
Pembangunan dan perbaikan infrastruktur, baik jalan, pelabuhan, bandara, maupun yang lain, terkesan dilakukan secara ad hoc dan tambal sulam. Departemen Pekerjaan Umum dan Departemen Perhubungan hampir dipastikan tampak sibuk menjelang Lebaran.
Pelebaran jalan dan pengaspalan, misalnya, terlihat di mana-mana. Persoalannya, mengapa hanya sibuk menjelang Lebaran? Salah satu faktornya adalah karena mental proyek. Ada Lebaran ada proyek dan itu artinya ada fulus yang masuk ke kantong.
Padahal, tingkat kerusakan jalan nasional di sejumlah provinsi di Indonesia mencapai lebih dari 25%, bahkan ada yang lebih tinggi. Artinya, pembenahannya harus dilakukan secara berkesinambungan, tidak cukup hanya di saat Lebaran.
Fakta juga memperlihatkan jumlah pemudik dari tahun ke tahun terus meningkat. Untuk Lebaran tahun ini diperkirakan jumlah pemudik mencapai 16,25 juta orang atau naik 6,5% ketimbang tahun lalu yang mencapai 15,3 juta orang.
Dengan kata lain, baik dari sisi jumlah pemudik maupun jumlah angkutan moda transportasi yang digunakan ada pertambahan.
Selain pembenahan infrastruktur, audit terhadap kelaikan seluruh jenis moda transportasi dan pengemudinya juga menjadi sebuah keharusan. Bukan rahasia umum lagi, salah satu penyebab terjadinya kecelakaan, baik di darat, laut, maupun udara lantaran moda yang tidak laik tetap dipaksakan untuk dioperasikan.
Padahal, tingkat kecelakaan yang menyebabkan kematian sepanjang arus mudik dan arus balik masih tergolong tinggi. Pada tahun lalu saja, lebih dari 600 orang tewas dalam berbagai jenis kecelakaan.
Perkara lain yang kerap dihadapi pemudik adalah menyangkut penyediaan tiket di berbagai moda transportasi. Selain tiap tahun harga tiket selalu naik, pemudik pun kerap tidak kebagian tiket. Belum lagi pemudik dihadapkan dengan tindak kekerasan dan penipuan.
Angkutan kereta api, misalnya, meskipun pemudik sudah antre berjam-jam, begitu loket dibuka, hanya dalam hitungan menit, tiket sudah terjual habis. Namun, pemudik masih bisa memperoleh tiket bila berani membayar jauh lebih mahal lewat calo.
Perkara pelik yang muncul setiap ritual mudik memberi kesadaran bahwa pelayanan publik belum menjadi prioritas pertama dan utama.
Untuk itu, perlu dilakukan terobosan baik dari sisi konsepsi maupun implementasi, agar angkutan mudik merupakan bagian yang integral dari transportasi publik yang aman dan nyaman, yang dapat dinikmati rakyat kapan saja dan di mana saja.
Jadi, negara jangan hanya sibuk mengurus transportasi publik sekali setahun, yaitu menjelang Lebaran saja. Transportasi publik bukan perkara musiman.
Comments :
0 komentar to “Transportasi Publik bukan soal Musiman”
Posting Komentar